Rasa yang terlambat kusadari



Namaku Chira, aku hanyalah seorang siswi tahun ketigabbiasa di salah satu SMA yang ada di Yogyakarta, kehidupanku juga biasa saja, namun teman-teman seangkatanku menjulukiku sebagai putri es batu, kata mereka diriku ini orangnya cuek banget dengan keadaan sekitar, memang iya sih aku ngerasa kurang peduli dengan keadaan yang ada disekitarku, aku lebih suka sesuatu yang objektif, seperti ketika sekolah ya aku hanya belajar dan memperhatikan guru, karena tujuanku bersekolah ya memang hanya untuk menuntut ilmu, namun seketika tujuanku tersebut goyah dan bercabang.

Ketika jam pelajaran pertama sedang berlangsung dengan ricuh karena guru yang bersangkutan tidak dapat hadir dan hanya memberikan tugas seperti biasanya, tiba-tiba ada seorang anak laki-laki yang masuk kekelas, kemudian disusul dengan wali kelas kami di belakangnya, tak lama kemudian wali kelasku meminta anak-anak kelas untuk diam, karena ada yang ingin disampaikan, setelahnya wali kelasku memyuruh anak laki-laki tersebut untuk memperkenalkan dirinya, "Selamat pagi teman-teman, perkenalkan namaku Raka Erlangga, bisa dipanggil Raka, Aka, atau Angga saja juga boleh, aku siswa pindahan dari luar daerah, salam kenal", setelah formalitas tersebut, dia dipersilahkan duduk, dan duduk di sebelahku, kebetulan teman sebangkuku sudah di DO karena hal yang tidak bisa aku ceritakan.

Pada awalnya aku merasa risih dan juga akward, karena dia terlihat seperti memaksa untuk berkomunikasi denganku walau tidak ada topik sama sekali, tapi aku salut sama dia, karena dia terlihat sangat baik, bahkan saat aku yang tidak sengaja menjatuhkan penanya, malah dia yang meminta maaf karena dia merasa bersalah sudah meletakan penanya di tempat tersebut. Setelah beberapa hari berlalu aku mulai akrab dengan dia, selain dia anaknya baik, dia juga selalu perhatian denganku, seperti ketika jam makan siang, dia selalu bertanya "kamu ada bawa bekal? apa mau jajan bareng? atau mau aku belikan sesuatu?", selain itu juga dia terlihat sangat polos, ketika jam istirahat anak kelas yang sangat nakal, dia mengganggu dan menggoda Raka dengan istilah yang bersifat jorok, tapi Raka malah terlihat seperti tidak mengerti istilah-istilah tersebut, sedangkan aku saja, yang tidak suka hal-hal tersebut malah yang mengetahuinya, sontak aku berdiri dan tidak sengaja dengan reflekku menampar anak nakal tersebut, setelah itu anak tersebut menatapku dengan tajam kemudian dia pergi.

Tidak lama setelahnya, aku merasa tidak enak, aku merasa bahwa apa yang telah aku lakukan terlalu berlebihan, ketika aku terlihat gelisah tiba-tiba Raka menegurku dan bertanya "Chir, dia emangnya siapa? kok kayanya dia tidak suka kalau aku dekat dengan kamu?", "tidak begitu, dia memang anaknya begitu, suka cari-cari perhatian, dia memang anaknya sedikit nakal, dan suka buat rusuh di kelas" jawabku,